Kodrat, Takdir & Nasib

Sabtu, 23 Maret 2013
                                                         KODRAT, TAKDIR & NASIB

Kebanyakan kita menganggap 3 kata di atas sebagai kata yang sama dengan arti yang sama pula. Padahal ke 3 kata tersebut berbeda dan memiliki arti yang berbeda pula. Kodrat adalah kehendak Allah terhadap mahluk ciptaannya, ada matahari, bulan, bumi, manusia dll. Takdir merupakan hirarki manusia, seperti sebagai laki-laki, wanita, kelahiran, jodoh, kematian dsa. Kodrat dan Takdir adalah merupakan hak proregatif Allah, kehendak dan kuasa Allah. Kodrat dan Takdir ini bersifat baik dan kontruktif, bukan jelek atau destruktif. Tidak kehendak Allah itu jelek kepada hambanya, semuanya selalu baik.

Sedangkan Nasib artinya sangat berbeda dengan Kodrat dan Takdir. Nasib justru diserahkan Allah kepada hambanya untuk menentukan, seperti mau senang, mau sedih, mau kaya, mau miskin, mau berhasil, mau gagal dll, sesuai dengan Firman Allah "Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum tersebut yang merubahnya". Apa saja yang seharusnya dilakukan untuk mengubah nasib kita? 1. Berdoa, 2. Bersalawat dan Bertasbih, 3. Sedekah, 4. Bertawaqal (berserah).

Allah sebenarnya mengabulkan doa setiap hambanya, doa yang disertai keyakinan di dalam hati. Berdoa yang disertai dengan keyakinan pasti akan tercermin dalam sikap, kata-kata, dan perbuatan (usaha) kita. Namun doa yang tidak disertai dengan keyakinan maka tidak akan tercermin dalam sikap, kata-kata dan perbuatan kita, itulah doa yang hanya mulutnya komat-kamit, tidak menyatu hati dan pikiran. Bagaimana contoh berdoa dengan penuh keyakinan?

Pada tanggal 17 Januari 2013 yang lalu saya diundang memberikan seminar di Samarinda, Kalimantan Timur. Karena jadwal yang lumayan padat, undangan itu sudah saya terima 1 bulan sebelumnya. sekitar 5 hari sebelum tanggal 17 Januari saya memesan tiket, dan begitu tiketnya sudah ok, walaupun saya masih di Jakarta tapi dihati saya, saya sudah yakin bahwa tanggal 17 Januari saya akan di Samarinda. Saking yakinnya saya di Samarinda, saya tidak punya rencana pada tanggal tersebut akan ke Surabaya. Berdoa dengan keyakinan seperti kita membeli tiket.

Bagaimana dengan Sedekah? Waktu saya mengalami kebangkrutan di bisnis pada tahun 2005 saya menceritakan kepada seorang sahabat sekaligus mentor terbaik saya dari Jogjakarya, almarhum Pak Ndung, waktu itu beliau menyarankan 2 hal kepada saya. Pertama, "Kamu harus menerima semua kegagalan dan kesalahan itu adalah kesalahan kamu, tanggung jawabmu, selagi kamu menyalahkan fihak selain kamu, kamu tidak akan bisa bangkit". Memang jika kita mau berhasil dan sukses dalam hidup ini kita harus mengambil alih tanggung jawab atas hasil yang terjadi pada diri kita. Perbedaan antara orang gagal dengan orang yang sukses adalah, orang gagal adalah orang yang  paling banyak menyalahkan orang lain, bahkan semua orang salah kecuali dirinya. Jika bisnis gagal yang salah adalah karyawan, pemasok, pesaing bahkan pelanggan. Jika nilai rapornya rendah yang disalahkan adalah guru, teman, sekolah, orang tuanya dan sebagainya. Tapi jika kita ambil alih tanggung jawab, pokoknya apapun yang terjadi pada diri kita, itu 100% adalah tanggung jawab kita, maka kita pasti akan sukses. Orang yang paling sukses adalah orang yang paling bertanggung jawab.

Yang kedua Almarhum bertanya kepada saya, "Kamu sedekah nggak?"
Saya jawab "Dulu saya sedekah Pak, tapi saat bisnis saya menurun, saya mulai mengalami kesulitan, sedekah saya juga menurun, dan akhirnya terhenti, bahkan mengirim uang ke Ibu saya yang merupakan janda tua (yang cuma mengharpkan kiriman uang dari anak-anaknya) sempat terhenti juga".
"Justru saat seperti ini, kamu harus lebih rajin bersedekah" saran Pak Ndung.
Saya percaya dengan beliau, dan saat itu saya sudah mulai bersedekah lagi, walaupun dengan kondisi keuangan yang lagi terjepit, saya selalu bersedekah. Setiap awal bulan saya kembali mengirim uang kepada Ibu saya, bagaimanapun kondisi keuangan saya waktu itu.

Alhamdulillah, sejak saat itu bisnis saya mulai membaik dan kembali bangkit.  Bahkan akhirnya bisnis saya jauh lebih baik dari sebelum saya bangkrut. Inti dari sedekah itu sebenarnya kita bersyukur, disaat kita bersyukur itu pasti kita juga akan berserah kepada Allah. Saya menyadari, selama 2 tahun dalam kebangkrutan saya selalu berusaha melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa saya lakukan. Banyak hal-hal dalam hidup ini yang kita tidak berdaya apa-apa tanpa bantuan Allah Yang Mahakuasa. Tetapi begitu saya berserah kepada Allah (dengan sedekah), saya serahkan seluruhnya kepada Allah, semua hal yang saya tidak mampu, sehingga saya bisa fokus kepada kemampuan yang saya miliki,  akhirnya banyak ide-ide saya yang pada gilirannya membuat saya bisa bangkit di bisnis.

Ada juga orang yang tidak mengakui tawaqal (berserah), mereka cuma bilang kalau sukses itu karena usaha mereka. Faham sekuler banyak menganut seperti ini, sehingga jika gagal mereka akan kebingungan, stess bahkan ada yang bunuh diri. Sebagian lagi mengakui tawaqal, tapi pasif. mereka cuma bilang ya sudah rezeki itu ada yang mengatur, mereka pasrah tapi tanpa upaya dan ikhtiar yang maksimal. Kedua kelompok di atas keliru, yang benar adalah kita meminta (DOA), YAKIN dengan yang kita minta, hasilnya kita gantungkan (TAWAQAL). Jika Allah belum memberikan suatu jalan, kita tawaqal, pasti ada jalan yang lebih baik dari itu. Terdapat hikmah disetiap kejadian. Saya pernah bangkrut tetapi akhirnya bisa bangkit, bahkan lebih baik dari pada sebelum saya bangkrut.




0 komentar:

Poskan Komentar